Anak dan Bermain

Anak dan Bermain

santri-prakarya-4

Kisah Anas Rodhiyallohu ‘Anhu

Apa yang kira-kira akan kita lakukan jika kita meminta anak untuk melakukan sesuatu, tetapi dia lalai dan justru melakukan sesuatu yang lain? Jika sumbu kesabaran kita panjang, mungkin kita tidak akan langsung meledak. Kita tegur dan nasihati dia baik-baik. Tapi, jika sumbu kesabaran kita pendek, mungkin saja kita bisa langsung meledakkan amarah.

Jika kita dapati kenyataan bahwa anak-anak cenderung suka bermain, sebenarnya, itu wajar. Bukan masalah besar. Dunia anak memang dekat dengan dunia bermain. Bahkan, sahabat Rosululloh pun mengalami masa-masa ini. Anas bin Malik r. a., misalnya. Beliau berkata:

“Adalah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam orang yang paling baik akhlaknya, lapang dadanya, dan banyak kasih sayangnya. Suatu saat, beliau menyuruhku untuk suatu keperluan. Ketika aku berangkat, aku tidak menuju ke tempat yang Rosul inginkan, tapi aku pergi ke tempat anak-anak-anak yang sedang bermain di pasar, dan ikut bermain bersama mereka. Ketika aku telah bersama mereka, aku merasa ada seseorang berdiri di belakangku dan menarik bajuku. Maka aku menoleh. Ternyata, orang itu adalah Rosululloh. Beliau menegurku sambil tersenyum: “Ya Unais (panggilan kesayangan) apakah kamu sudah pergi ke tempat yang aku perintahkan?” Aku gugup menjawabnya: Ya, ya Rosul, sekarang saya akan berangkat.” Demi Alloh, aku telah menjadi pembantu beliau selama sepuluh tahun. Tidak pernah aku mendengar beliau menegurku: “Mengapa kamu lakukan ini dan itu. Atau, mengapa kamu tidak melakukan ini atau itu?””

santri-prakarya-1Riwayat di atas memberikan pelajaran berharga kepada kita. Salah satunya gambaran tentang pola asuh dan pola didik Rosululloh kepada anak. Tak diragukan lagi, Rosululloh adalah pribadi yang paling sabar dan paling baik akhlaknya, bahkan kepada anak-anak sekalipun. Padahal, jika dianalisa kasus dalam hadits tersebut, sahabat Anas r. a. dapat dikatakan melakukan “pelanggaran serius”, karena melalaikan tugas Rosul. Tetapi, kita lihat bagaimana sikap Rosul kepada Anas r. a.

Dari sahabat Anas r. a., kita banyak mengetahui bagaimana indahnya akhlak Rosululloh di rumah beliau. HaditsAnas r. a. ini mestinya menginspirasi kita dalam membangun pola asuh dan pola didik terhadap anak. Bukankah Rosululloh adalah sebaik-baik pendidik?

santri-prakarya-3Anak dan Bermain

Kembali pada soal anak suka bermain. Bisa dikatakan, itu fitrah mereka. Meskipun begitu, tidak lantas kita membebaskannya begitu saja. Tetap harus dikontrol dan diarahkan. Apalagi, anak-anak yang hidup di zaman kita sekarang. Tanpa kontrol dan arahan, anak akan dapat dengan mudah memilih jenis “permainan” yang membahayakan diri mereka sendiri. Baik membahayakan fisik, terlebih lagi membahayakan pola pikir dan akidah mereka. Na’udzubillaahi min dzalik.

Pada dasarnya, anak-anak cenderung menerima segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Dalam soal bermain, anak-anak sebenarnya bisa sangat kreatif. Mereka mungkin menikmati bermain dengan mainan-mainan canggih. Tetapi, betapa banyak yang justru sangat asyik bermain hanya dengan beberapa butir batu. Sebab, dalam benaknya, batu-batu itu bisa menjadi apa saja yang dia mau. Justru melalui batu yang bentuknya tidak jelas itu, anak bisa berimajinasi lebih kreatif.

Di pesantren, kami berusaha tetap memberikan ruang dan waktu bagi santri untuk bermain. Ada kalanya, kami membebaskan mereka bermain menurut yang mereka sukai, sepanjang permainan itu baik. Tetapi, di lain waktu, kami sengaja “bermain” bersama mereka.

santri-prakarya-6Kami bermain bersama santri dengan misi. Kami berusaha menyelipkan pelajaran di dalamnya. Tentu, kami berusaha mengemasnya sedemikian rupa, sehingga santri dapat “belajar” melalui insight-insight selama bermain. Jika kami pandang santri sulit mendulang insight selama permainan, maka kami ajak mereka untuk “ngobrol” setelah acara bermain selesai. Kami minta mereka menceritakan apa yang mereka alami dan rasakan saat bermain; apa masalahnya; serta bagaimana mereka menyelesaikannya. Pola ini kami terapkan khususnya saat kami melakukan permainan-permainan bertemakan team building.

Kami memandang, bermain bersama seperti ini cukup efektif dalam menanamkan kesadaran tentang suatu konsep kepada santri. Misalnya, tentang konsep kepemimpinan dan kerja sama. Santri lebih mudah memahami konsep, sebab mereka baru saja mengalami apa yang sedang dibahas. Melalui pengalaman, konsep yang abstrak menjadi lebih konkrit, sehingga lebih mudah dipahami.

Senantiasa mencari bentuk permainan baru yang menarik minat anak memang butuh pemikiran. Tetapi, kami pandang itu sebagai sebuah tantangan yang menyenangkan. Semoga saja istiqomah…. (teks & foto: Joko)

About Author

Leave a Reply

*