Gizi Ruhani

Gizi Ruhani

santri-menghafal alquranMasa kanak-kanak adalah masa pertumbuhan. Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan mereka dapat tumbuh dengan baik. Kita perhatikan asupan gizinya, juga kebersihan dan kesehatan lingkungannya. Mungkin, kita datangkan bagi mereka asisten yang secara khusus menyediakan segala kebutuhannya. Termasuk, kita sekolahkan anak kita ke sekolah-sekolah yang mahal, dengan harapan mendapat pendidikan yang bermutu tinggi. Masih ditambah lagi dengan pendidikan ekstra alias les-les untuk meningkatkan ketrampilan mereka. Singkat kata, kita “efektifkan” waktu anak sehari-hari dengan menu sehat dan “kegiatan bermanfaat”. Sempurna!

Ketika semua kebutuhan itu terpenuhi, sebagian orang tua mungkin sudah dapat bernafas lega. Sebab, hampir seluruh waktu anak terisi dengan berbagai kegiatan yang membuatnya sibuk dan produktif. Ini semua demi masa depan mereka. Konon begitu….

Satu hal yang mungkin kurang benar-benar diperhatian orang tua adalah bahwa sebagian besar anak belajar dengan mencontoh, atau modeling menurut istilah psikologi.

santri-membaca bukuMungkin Anda pernah melihat putri kecil Anda mengenakan baju dan sepatu ibunya. Atau, anak lelaki Anda ikut-ikutan memegang tang dan obeng sambil mengutak-atik kipas angin karena meniru bapaknya. Anak kecil (balita) yang bertingkah mencontoh aktivitas orang tuanya akan mengundang rasa lucu dan gemas. Bagaimana dengan anak yang lebih besar? Ketika putri remaja mulai suka bercelana pensil dan sepatu kets karena meniru artis idolanya, bagaimana sikap kita? Ketika anak lelaki kita mulai menegakkan rambut untuk menjadi punker, apa yang kita pikirkan tentang mereka? Sebagian orang mungkin akan menjawab: mereka sedang dalam masa mencari jati diri. Biarkanlah mereka berproses. Sikap yang tampaknya bijaksana, bukan…?

Anak-anak cenderung mengekspresikan apa yang mereka serap. Jika putra putri Anda termasuk penggemar berat Naruto, maka wajar jika dia tahu seluk beluk Ninja Konoha. Wajar juga jika dia menggemari cosplay karakter Naruto. Itu adalah efek logis dari rangkaian belajar. Apa yang diserap, itulah yang akan ditampakkan.

alfatihKelihatannya sepele. Ah, itu hanya meniru. Padahal, meniru adalah proses belajar. Dan belajar mengandung konsekuensi; baik jangka pendek maupun jangka panjang. Sebab, setiap informasi yang diserap akan diolah menjadi ingatan jangka pendek atau tersimpan secara permanen sebagai ingatan jangka panjang, jika mendatangkan kesan yang sangat kuat.

Oleh karena itu, selain memilihkan berbagai asupan gizi yang bersifat lahiriah, penting juga menimbang asupan-asupan gizi ruhaniah. Bahkan, asupan gizi ruhani jauh lebih penting daripada asupan gizi badani. Konsekuensi badan hanya selama kita hidup di dunia yang fana dan singkat ini. Sedangkan konsekuensi ruhani akan terbawa sampai kehidupan akhirat yang abadi.

Dengan demikian, sebenarnya, persoalan meniru atau modeling tidak sesederhana kelihatannya. Bukankah salah satu metode pendidikan para ulama salaf terdahulu adalah dengan cara meniru? Mungkin Anda pernah mendengar istilah qudwah. Qudwah adalah bentuk pendidikan melalui keteladanan, atau meniru, atau modeling.

Sedangkan meniru sendiri dapat dilakukan setidaknya melalui dua cara. Pertama, meniru karakter yang fisiknya hadir. Kedua, meniru karakter yang fisiknya tidak hadir, seperti tokoh dalam cerita, film, buku, atau media lainnya.

Itulah kenapa, memilah dan memilih sumber asupan gizi ruhani bagi anak kita merupakan tanggung jawab setiap orang tua. Lebih penting daripada memberikan asupan gizi badani. Dan tak ada asupan gizi ruhani yang lebih baik selain tarbiyah diniyah dan aktivitas yang mendukung ke arah sana.

Berikan anak-anak kita resep aqidah yang benar. Kemudian sediakan cemilan ruhani yang sehat. Di antara cemilan sehat untuk ruhani anak kita yang cukup baik adalah nasihat. Coba perhatikan, berapa kali dalam sehari kita menyampaikan nasihat kepada anak? Bukankah Rosul Shollallohu ‘Alaihi wa Salam bersabda bahwa ad diinun nashiihah? Agama itu adalah nasihat?

Selain nasihat, buku yang bermutu juga dapat menjadi salah satu sumber asupan gizi ruhani putra putri kita. Pilihkan buku yang bagus. Bukan sekadar buku yang memenuhi otak mereka dengan informasi, tapi gagal menjadi penggembur hati. Berikan bacaan yang menginspirasi. Bacaan yang menumbuhkan daya juangnya sebagai hamba Alloh.

Astaghfirulloh. Betapa kita ini masih sering melalaikan urusan-urusan seperti ini….

Padahal, di tengah arus informasi media (baik media massa, hiburan, atau buku) yang semakin keruh dan beracun akhir-akhir ini, saya rasa, apa yang baru saja kita bicarakan adalah persoalan yang sangat relevan. Sebab, diakui atau tidak, media telah menjadi salah satu guru yang buruk bagi anak-anak kita hari ini. Wallohu a’lam. (teks & foto: Joko)

About Author

Leave a Reply

*