Membangun Karakter Teladan

Membangun Karakter Teladan

santri-teladan-1

Mungkin kita pernah mendengar keyakinan dalam masyarakat yang mengatakan: jika ingin mencari pasangan hidup, perhatikan bibit, bebet, dan bobotnya. Jika ingin mencari pasangan hidup, carilah bibit unggul dari keturunan yang juga unggul. Dengan demikian, kelak, dapat diharapkan lahir generasi yang unggul pula.

Pandangan ini mengundang munculnya dua penafsiran: pertama, sikap dan karakter seseorang diturunkan secara genetik. Jika orang tua baik, niscaya keturuanannya “otomatis” akan baik. Kedua, tafsirannya tidak dari sudut pandang genetik, melainkan konteks. Maksudnya, anak yang lahir dari orang tua yang baik, kemungkinan besar juga akan baik. Orang tua yang baik tentu akan memperlakukan anak mereka sesuai dengan karakter baik mereka.

Mana di antara dua sudut pandang penafsiran itu yang lebih shohih? Bukan itu yang hendak kita bahas di sini. Kami sendiri meyakini bahwa karakter baik dapat ditumbuhkan. Teori psikologi modern banyak membahas soal ini, dari berbagai sudut pandang. Contoh, ada sebagian peneliti perilaku dari kalangan psikologi aliran behaviorisme berhasil membuktikan bahwa perilaku seseorang dapat dibentuk. Salah satu caranya melalui reward (hadiah) dan punishment (hukuman). Jika anak melakukan perbuatan yang kita harapkan, dia mendapat hadiah. Sebaliknya, jika dia melakukan perilaku yang tidak kita harapkan, dia mendapat hukuman. Konsep ini sederhana, dan rasanya, kebanyakan orang tua dan institusi pendidikan banyak yang sudah mengamalkannya.

santri-sportif-Kami memiliki pandangan dan filosofi sendiri mengenai hal ini. Karakter yang baik itu seperti tanaman. Ia akan tumbuh subur jika mendapatkan media tanam yang subur dan perhatian yang intens. Contoh, kita menginginkan anak-anak bersikap jujur dan berani mengakui kesalahan yang mereka lakukan. Akan tetapi, kita minta mereka jujur mengakui kesalahan dengan disertai ancaman dan kata-kata yang bernada intimidasi. Seribu kali kita minta mereka mengaku, niscaya tak akan ada yang suka rela melakukannya. Kenapa? Intimidasi dan rasa takut bukan media tanam yang tepat untuk menumbuhkan kejujuran.

Sebaliknya, cobalah minta anak untuk jujur mengakui kesalahan dengan santai, disertai motivasi tentang keutamaan orang yang berani jujur, dan sebuah jaminan bahwa mereka akan baik-baik saja setelah mengaku. Berdasarkan pengalaman kami, mereka akan berani untuk jujur. Mungkin, pada awalnya akan perlu waktu, dan tidak serta merta mengaku. Akan tetapi, jika jaminan kita bahwa mereka akan baik-baik saja jika jujur benar-benar kita terapkan secara konsisten, maka pada kasus-kasus berikutnya, kita bahkan tidak perlu bertanya untuk mendapatkan pengakuan mereka. Kuncinya adalah memberikan media tanam yang subur; memberikan lingkungan yang kondusif.

santri-sportifSikap jujur, sportif, peduli, dan sikap-sikap positif lainnya membutuhkan lingkungan yang positif untuk menumbuhkembangkannya. Dalam konteks pendidikan, menyediakan lingkungan yang kondusif itu sama pentingnya dengan kebutuhan akan guru dengan skill mengajar yang mempuni, atau kurikulum yang teruji. Jika pendidikan kita maknai sebagai sebuah upaya mengubah karakter buruk menjadi karakter baik, maka membangun lingkungan belajar yang baik menjadi isu penting yang tak boleh dilewatkan.

Dengan segala keterbatasan, Pesantren de Muttaqin berusaha membangun komitmen untuk menyediakan lingkungan belajar yang positif bagi santri. Sebab, target pendidikan kami bukan hanya demi menghasilkan santri yang memiliki kemampuan begini dan begitu, atau yang juara ini dan itu, tetapi juga demi menghasilkan santri yang memiliki karakter seorang teladan. Demikianlah cita-cita kami; dan kepada Alloh kami memohon pertolongan untuk mewujudkannya. (teks & foto: Joko)

About Author

Leave a Reply

*