Menuju Ma’had Tahfidz yang Ideal

Menuju Ma’had Tahfidz yang Ideal

robithoh-1

deMuttaqin-Klaten. Ma’had tahfidz Alquran kian mendapatkan hati di masyarakat. Semakin banyak orang tua yang memilih mengirim putra putri mereka ke ma’had tahfidz untuk dididik menjadi penghafal Alquran. Wal hasil, ma’had tahfidz Alquran pun bermunculan bagai jamur di musim hujan.

robithoh-5Hal ini tentu menggembirakan dan melahirkan optimisme akan makin gemilangnya generasi Islam mendatang. Akan tetapi, semangat ini tentu harus diimbangi dengan pengelolaan dan kontrol yang baik. Harapannya, menjadi penghafal Alquran bukan sekadar menjadi tren, tetapi benar-benar merupakan indikasi sebuah kebangkitan umat yang berkualitas.

Untuk tujuan itulah, Roobithoh Ma’aahad Tahfiidzil Quraan ini digagas. Hari Rabu, 28 Oktober 2015 lalu, digelar Roobithoh Ma’aahad Tahfiidzil Quraan khusus untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ini merupakan pertemuan untuk yang ke-4 kalinya. Ma’had yang terdaftar sebagai peserta dalam pertemuan ini mencapai 58.

Ustadz DR. M. Muinudinillah Basri hafidzohullooh, mudir PPTQ Ibnu Abbas, selaku inisiator pertemuan ini, menyatakan bahwa Roobithoh Ma’aahad Tahfiidzil Quraan ini digagas dengan beberapa target. Pertama, sebagai ajang silaturohim di antara para pengelola ma’had tahfidz. Setelah saling kenal, diharapkan akan tercipta sinergi di antara ma’had tahfidz dalam rangka menguatkan dasar pendidikan Alquran di pesantren masing-masing. Peningkatan mutu dan kualitas ma’had tahfidz dengan standar ideal ini sekaligus menjadi target kedua yang ingin diwujudkan.

robithoh-2Roobithoh Ma’aahad Tahfiidzil Quraan khusus untuk wilayah Jawa Tengah kali ini menghadirkan 4 masyayikh sebagai pembicara. Beliau, hafizhohumullooh, adalah: Syaikh Asron Jabir Asron, Syaikh Abdul Karim  al Yamani, Syaikh Romadhon al Mishri, dan Syaikh Muhammad Romadhon. Pada kesempatan ini, para masyayikh memberikan banyak nasihat berharga seputar pengelolaan ma’had tahfidz Alquran.

Satu mutiara nasihat yang penting untuk diperhatikan bagi para pengelola ma’had tahfidz adalah bahwa menjadi seorang penghafal Alquran tidak cukup hanya bisa menghafal saja. Akan tetapi, harus disertai mutu yang standar. Menurut Syaikh Asron hafidzohullooh, yang disebut haafidz bukan sekadar hafal, tetapi hafal dengan itqon, yakni mulazamah pada syaikh dan harus memahami kaidah-kaidah yang berkaitan dengan Alquran. Meraih sanad sangat penting bagi seorang penghafal Alquran. robithoh-3Akan tetapi, bersanad saja, tetapi kemudian mengabaikan itqon, akan menjadi kurang bagus.

Syaikh Romadhon al Mishri hafidzohullooh menambahkan bahwa Alquran hendaknya dijadikan sebagai ilmu yang diajarkan pertama kali kepada anak. Baru kemudian ilmu syar’i. Ilmu syar’i berguna sebagai sarana seseorang untuk menjadi da’i. Sedangkan Alquran hendaknya tertanam pada pribadi anak menjadi karakter.

Syaikh Abdul Karim al Yamani hafidzohullooh menegaskan pentingnya akhlak mulia bagi para penghafal Alquran. Sebab, menurut beliau, ada hafidz yang perilakunya tidak mencerminkan akhlak seorang penghafal Alquran. Beliau pernah berjumpa seorang hafidz yang potongan robithoh-4rambutnya panjang pada bagian tengah kepala hingga menutupi mata (kemungkinan, ini adalah potongan rambut ala punker-pen). Oleh karena itu, penting bagi para pengelola ma’had untuk mengupayakan lahirnya keselarasan antara hafal Alquran dengan akhlak yang mencerminkan kandungan Alquran yang telah dihafalnya.

Berkaitan dengan standardisasi mutu ma’had ini, Ustadz Mu’in (panggilan akrab Ustadz DR. M. Muinudinillah Basri hafidzohullooh) mengajak hadirin mendiskusikan tentang kemungkinan mendatangkan masyayikh sebagai tenaga pengajar ahli. Apalagi, saat ini, banyak syaikh penghafal Alquran yang mendapat tekanan dan ancaman dari penguasa. Khususnya, mereka yang tinggal di Mesir dan Yaman. Oleh karena itu, program mendatangkan syaikh ini memiliki dua mashlahat: menjadi sumber ilmu dengan mutu yang telah standar; sekaligus sebagai langkah nyata menyelamatkan para ahlul ‘ilmi dari penindasan penguasa dholim yang sedang berkuasa di negara mereka.

Demikianlah catatan ringkas seputar Roobithoh Ma’aahad Tahfiidzil Quraan ke-4 untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bagi Pesantren de Muttaqin, yang saat ini sedang belajar merangkak, pertemuan semacam ini mendatangkan optimisme dan pompaan semangat yang luar biasa besar. Mudah-mudahan, ke depan, dapat dibangun komunikasi yang baik antarma’had tahfidz Alquran, khususnya yang tergabung dalam Roobithoh Ma’aahad Tahfiidzil Quraan, dan ma’had-ma’had lainnya di Indonesia dan di dunia. Semoga, semua target yang dicita-citakan dapat direalisasikan, demi menyongsong lahirnya generasi-generasi Qurani yang berkualitas dan unggul. Bismillaah…. (teks &foto: Joko)

About Author

7 Comments

  1. abu ibrahim

    semoga Alloh Subhanahu wata’ala menghendaki kebaikan kepada pesantren demuttaqin dan pesantren lainnya barokallohufikum

  2. abu abdillah

    pimpinan de muttaqin siapa yah?

  3. Abu Ismail Miftahus Surur

    Semoga Pesantren De Muttaqin meampu mencetak generasi terbaik dalam kepemimpinan, keteladanan melalui kemuliaan menghafal dan mengamalkan al Qur’an. Aamiiin

  4. Assalamualaikum. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkahi Pondok Pesantren De Muttaqin. Afwan mau bertanya, apakah syarat yatim piatu dan dhuafa menjadi syarat wajib untuk menjadi santri di Pesantren De Muttaqin? Jazakumullah.

Leave a Reply

*