Menulis Halus

Menulis Halus

santri-motorik halus

Konon, proses pendidikan dikatakan ideal jika dapat meliputi tiga ranah sekaligus: kognisi, afeksi, dan psikomotorik. Kognisi berkaitan dengan pemahaman konsep. Afeksi berkenaan dengan sikap. Sedangkan psikomotorik merupakan manifestasi dari kedua ranah sebelumnya.

Pendek kata, ketika kita mengajari anak konsep berbicara lemah lembut kepada orang tua, maka anak paham apa yang dimaksud dengan bicara lemah lembut. Anak meyakini konsep itu sehingga mengejawantah dalam bentuk sikap. Terakhir, anak dapat mengamalkan apa yang telah ia pelajari secara konsisten.

santri-motorik halus-Dalam kesempatan ini, saya hanya ingin fokus pada soal bersikap lemah lembut. Menurut saya, sikap ini rasanya makin terkikis dari kehidupan masyarakat. Banyak faktor yang menyebabkan kenapa hal ini terjadi. Akan tetapi, satu hal yang, menurut saya, menjadi sebab utama adalah karena makin menguatnya pola pikir individualistik, nafsi-nafsi.

Ketika rasa saling peduli sirna, maka kelemahlembutan pun akan mengikutinya. Sebab, lemah lembut terbangun dari kemampuan berempati, yakni kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ini kaitannya dengan kemampuan berolah rasa.

Kemampuan olah rasa seseorang dapat ditumbuhkan dan dilatih. Ada banyak cara dapat dipilih. Salah satu cara yang sederhana, dan mulai banyak ditinggalkan orang, adalah dengan berlatih menulis halus. Mungkin Anda akan bertanya, apa kaitan menulis halus dengan olah rasa, dan sikap lemah lembut?

santri-motorik halus--Menulis halus merupakan sebuah seni pengendalian diri. Tidak semua orang dapat menarik garis dengan tekanan yang dinamis antara tebal dan tipis. Orang dengan tingkat kesabaran yang rendah, atau yang terbiasa dengan gerakan-gerakan yang kasar, akan sulit menarik garis tebal tipis berliku-liku tanpa terputus. Pekerjaan yang mensyaratkan detail dan halus selalu menuntut kesabaran. Semakin sabar dan lembut jiwa seseorang, semakin dia mudah menyelesaikan karya yang detail dan halus.

Di sela-sela menghafal Alquran, belajar diniyah, dan pelajaran sekolah umum, kami juga memberikan pelajaran menulis halus kepada santri kami. Bukan hanya agar tulisan mereka menjadi mudah dibaca dan indah. Akan tetapi, lebih jauh dari itu, kami ingin menstimulasi sisi kelembutan dan kesabaran pada diri santri kami. Pun, kami juga berharap mereka akan memiliki daya apresiasi yang bagus terhadap kerapihan, keteraturan, dan keindahan.

Menulis halus mungkin terdengar sepele dan kuno. Tetapi, bagi kami, tak ada yang sepele dan kuno jika ia memang dapat digunakan sebagai penunjang belajar santri kami, demi tercapainya visi misi dan cita-cita besar pesantren. (teks & foto: Joko)

About Author

Leave a Reply

*