Menumbuhkan Cinta  Belajar

Menumbuhkan Cinta Belajar

santri-murojaah-2

Menghafal Alquran itu berat. Terutama, jika tidak diiringi niat yang kuat. Tetapi, menghafal Alquran bisa terasa ringan, bahkan menyenangkan. Terutama, jika diiringi rasa cinta yang besar untuk melakukan. Orang-orang yang bekerja dengan dorongan cinta yang besar akan lebih memiliki ketahanan dan kreativitas yang luar biasa.

Rasa cinta itu tidak muncul begitu saja. Ada situasi dan kondisi yang merangsangnya tumbuh. Inilah sebenarnya yang penting untuk kita ketahui. Harapannya, kita dapat mewujudkan kondisi ideal itu dalam setiap proses belajar mengajar. Tentu saja, mewujudkan itu tidak semudah mengatakannya.

santri-murojaah-1Percobaan Watson
Ada sebuah cerita. Seorang tokoh psikologi, John Broadus Watson, pernah melakukan percobaan yang ia lakukan kepada seorang bayi, bernama Albert. Watson ingin membuktikan bahwa perilaku dapat dibentuk melalui pengondisian.

Pada awalnya, Watson menunjukkan pada Albert berbagai benda seperti topi putih, syal putih, hingga tikus putih. Albert yang belum memiliki referensi apapun sebelumnya tentang benda-benda itu menunjukkan rasa tertarik. Ia ingin menggapainya.

Watson ingin membangkitkan rasa takut Albert pada benda-benda yang menarik perhatiannya itu. Watson tunjukkan tikus putih pada Albert. Albert tertarik dan berusaha menggapainya. Ketika tangannya hampir menyentuh tikus itu, Watson memukul besi keras-keras tepat di belakang kepala Albert. Bayi itu terkejut hingga terguling dari kursinya. Dia menyembunyikan wajahnya ke karpet. Albert ketakutan.

Kegiatan itu Watson lakukan berulang kali. Akhirnya, setiap kali Albert melihat tikus putih itu, dia menangis ketakutan. Watson mengembangkan percobaannya. Rasa takut pada Albert dikembangkan tidak hanya pada tikus putih, tetapi pada setiap benda yang memiliki ciri seperti yang ada pada tikus putih. Watson sukses membuat bayi normal itu menjadi “sakit jiwa”.

Pengondisian Negatif
Kisah Albert di atas memberi kita satu pelajaran penting. Anak pada dasarnya memiliki kemampuan membaca hubungan peristiwa dan membangun pemahaman terhadapnya. Dalam kasus Albert, dia telah “dipaksa” untuk mengaitkan tikus putih dengan suara menakutkan. Akibatnya, setiap kali melihat tikus putih, otomatis Albert merasa takut. Tikus putih menjadi sesuatu yang harus dia hindari.

Entah disadari atau tidak, sebagian orang tua dan pendidik banyak melakukan apa yang dilakukan Watson pada Albert. Karena didorong ambisi untuk “berprestasi”, orang tua dan guru menyampaikan pelajarannya dengan banyak tekanan. Kata-kata “harus”, “pokoknya”, yang seringkali diiringi bentakan, amarah, dan hukuman menjadi senjata andalan untuk memaksa anak belajar.

Alih-alih menumbuhkan cinta, pola pengajaran seperti itu justru membuat anak mengaitkan aktivitas belajar dengan perasaan tidak nyaman, tertekan, bahkan takut. Akibatnya, belajar menjadi sesuatu yang cenderung anak hindari. Mungkin, saat itu, anak melakukan apa yang kita minta. Tetapi, apakah aktivitas belajar itu akan terus dia lakukan ketika kita tak lagi bisa selalu mengontrolnya? Kita tidak menumbuhkan cinta, tapi sebuah keterpaksaan.

santri-murojaah-3Dikejar Anjing atau Mengejar Pencuri?
Belajar dengan metode memaksa mungkin saja berhasil. Tetapi, akan selalu ada sisi yang “kelelahan” akibat pola pendidikan itu. Wallohu a’lam.

Dalam kondisi terpaksa, seseorang memang dapat mengeluarkan kemampuan yang tak terduga. Seperti saat dikejar anjing, misalnya. Karena didorong rasa takut akan digigit anjing, seseorang mungkin dapat berlari lebih kencang dari biasanya, dan melompati sebuah pagar tembok yang tinggi. Tetapi, apa yang terjadi setelah dia berhasil lolos dari kejaran anjing? Orang itu mungkin akan kelelahan. Apakah dia bisa berlari kencang dan melompati tembok tinggi lagi? Belum tentu. Kenapa? Rasa takut yang membangkitkan kemampuannya sudah tidak ada lagi.

Sekarang, misalnya rumah Anda kemalingan. Seorang pencuri mengambil barang Anda yang sangat berharga. Anda memergoki pencuri itu dan berusaha menangkapnya. Mungkin pencuri itu sangat gesit sehingga membuat Anda kewalahan dan ngos-ngosan. Bisa jadi, Anda nyaris putus asa karena pencuri tak juga terkejar. Tapi, di saat Anda kelelahan, tiba-tiba, Anda melihat pencuri itu melintas di kejauhan. Apa yang Anda lakukan? Karena didorong keinginan yang besar untuk meringkus pencuri itu, bisa jadi, saat itu Anda akan langsung mengejarnya. Dari mana datangnya energi itu? Dorongan kuat yang bangkit dari dalam diri.

Pengondisian Positif
Cara efektif menumbuhkan cinta adalah lewat pengondisian positif. Jika kita perhatikan hadits yang menerangkan bagaimana sikap Rosul pada anak-anak, niscaya kita akan jumpai Rosul mencontohkan ini pada kita.

santri-akrabMungkin kita sudah ma’ruf dengan riwayat ini: Rosululloh pernah lama sekali sujud dalam sholatnya, maka salah seorang sahabat bertanya, ”Wahai Rosululloh, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Rosululloh SAW, menjawab, “Tidak ada apa-apa, tetaplah aku ditunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau tergesa-gesa sampai dia puas.” Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau Al-Husain Rodhiyallohu ‘anhuma.

Anas Bin Malik Rodhiyallohu ‘anhu pernah berkata: “Pernah suatu hari Rosululloh menyuruhku keluar untuk suatu kebutuhan. Maka aku berkata: “Demi Alloh saya tidak mau pergi, padahal sebenarnya aku mau melakukan apa yang disuruh oleh Nabi.”

Maka aku pun keluar, sampai aku melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar, maka Rosululloh (mencariku dan) memegang bajuku dari belakang.

Maka ketika aku menoleh, kulihat beliau tertawa sambil berkata: “Ya Unais, apa kamu pergi seperti yang aku suruh?” Aku menjawab: “Iya wahai Rosululloh.”

Sungguh demi Alloh, aku telah melayani beliau selama 9 tahun, dan aku tidak pernah melihat beliau berkata terhadap apa-apa yang aku kerjakan: “Kenapa kamu melakukan itu?” atau terhadap sesuatu yang tidak aku kerjakan “Mengapa kamu tidak melakukan itu ?” (tidak memarahi).

Beginilah Nabi bersikap sabar terhadap kenakalan dan kekurangan adab anak-anak, menasehati mereka tanpa teriakan, celaan, apalagi kekerasan.

Banyak hikmah yang dapat kita dulang dari hadits-hadits di atas. Di antaranya, adalah sikap Rosululloh yang selalu positif kepada anak. Beliau Shollallohu ‘alaihi wa salam menjadi sosok yang membuat anak merasa aman dan nyaman berada di dekatnya. Maka, tidak heran bagaimana besarnya rasa cinta para sahabat rodhiyallohu ‘anhum kepada beliau. Bagaimana para sahabat berebut untuk dapat selalu mengiringi beliau.

Tarbiyah Rosululloh telah terbukti melahirkan generasi terbaik yang Alloh puji. Kenapa kita masih juga bingung mencari-cari model pendidikan…?

Menumbuhkan Cinta Belajar
Kenapa tidak kita coba adaptasi hikmah dari hadits-hadits tersebut dalam mengelola pendidikan hari ini? Kata kuncinya adalah menampilkan belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kita dapat memulainya dengan mengubah sudut pandang: kurangi terlalu kritis menyorot sisi negatif dan kekurangan anak saat belajar; dan berusaha lebih banyak fokus melihat usaha anak dan mengapresiasinya secara positif.

Apresiasi positif terhadap usaha anak akan menumbuhkan konsep diri yang positif. Penerimaan dan apresiasi positif juga memberi rasa aman dan nyaman pada anak. Dari situ, anak akan mengaitkan kita dan proses belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan. Mungkin kita pernah mendengar Thomas Alfa Edison dan Einstein. Dua orang jenius yang dianggap gagal oleh sekolahnya justru berkembang luar biasa ketika mendapatkan lingkungan yang dapat menerima “kegagalannya”. Wallohu Ta’ala A’lam. (teks & foto: Joko)

About Author

Leave a Reply

*