Putra Sulung Kami….

Putra Sulung Kami….

Inilah putra sulung kami, santri SD Pesantren de Muttaqin. Semoga, kelak mereka dapat membuat dunia lebih indah dengan hiasan akhlak mulia mereka. (foto: Joko)

Ibrahim, salah satu santri kami, saat datang ke Rumah Besar de Muttaqin untuk pertama kalinya, pada hari Ahad, 29 Maret 2015. (foto: Joko)

Rasanya, 31 Juli 2015 belum lama berlalu. Hari pertama masuk pesantren itu belum lama berlalu. Tetapi, melihat anak-anak ini, seolah hari itu sudah berlalu cukup lama. Kenapa demikian? Karena, kami melihat adanya perubahan yang cukup signifikan pada diri anak-anak ini. Seakan-akan, mereka sudah bersama kami beberapa bulan lamanya.

Hari itu, Ahad, 29 Maret 2015. Serombongan anak kecil bersama orang tuanya berkumpul di Rumah Besar de Muttaqin, di Maguwo. Mereka adalah calon-calon santri Pesantren de Muttaqin angkatan pertama. Mereka berkumpul hari itu untuk menjalani tes seleksi, yang meliputi psikotes, kemampuan dasar, dan wawancara orang tua atau walinya.

Fawwas, ketika menjalani psikotes dan tes kesehatan pada saat seleksi penerimaan santri baru, Ahad, 29 Maret 2015. (foto: Joko)

Anak-anak manis ini tampak malu-malu. Saat itu, mereka hanya bekeliaran di sekitar orang tuanya  saja. Sampai, akhirnya, kami pisahkan anak dan orang tuanya dengan sebuah kegiatan yang berbeda. Anak-anak menjalani tes seleksi; orang tuanya berkumpul bersama kami untuk wawancara.

Kami melihat, anak-anak ini cukup bagus proses adaptasinya. Sebab, kami tidak memerlukan waktu lama untuk membuat mereka merasa nyaman mengikuti rangkaian tes seleksi.

Sambutan selamat datang kepada santri baru oleh Bapak Ir. Ike Muttaqin, Jumat, 31 Juli 2015. (foto: Joko)

Pekan pertama mereka bersama kami, ada yang sudah dapat menyesuaikan diri dengan baik. Ada juga yang, diam-diam, masih suka menangis sendiri karena kangen orang tuanya. Bahkan, ada satu anak yang menolak ditinggal orang tuanya pada hari pertama masuk Rumah Besar de Muttaqin. Alhamdulillah, masa-masa penuh perasaan sedih mengharu biru itu hanya berlangsung satu pekan saja, bahkan kurang. Memasuki pekan kedua, santri-santri ini sudah benar-benar menyatu dengan Rumah Besar de Muttaqin. Bahkan, mereka spontan menolak ketika ditawari apakah mereka mau pulang ke rumah di kampung halaman.

Kami melatih para santri untuk mengembangkan konsep percaya diri, dan berani tampil menjadi pemimpin dalam keseharian mereka. (foto: Joko)

Ketika santri sudah benar-benar dapat beradaptasi dengan baik, baru terlihat bagaimana karakter mereka yang sesungguhnya. Tantangan yang sesungguhnya bagi kami pun dimulai. Berbagai polah tingkah “liar” dan celoteh “beraorama televisi” (baca: film dan sinetron)  sempat memenuhi ruang-ruang Rumah Besar de Muttaqin. Keadaan ini kian meneguhkan keyakinan kami, bahwa pendidikan yang baik memang harus melibatkan lingkungan; melibatkan segala sesuatu yang dapat ditangkap panca indera anak.

Begitulah situasi pekan-pekan di bulan Agustus lalu. Memasuki bulan September, kami berhasil mengurangi sebagian besar kosa kata khas televisi. Sedikit demi sedikit, kami ajak santri untuk mulai mencicipi rasa bahasa. Tentu, terlalu dini untuk mengklaim bahwa mereka berubah seratus persen menjadi penutur bahasa yang baik. Tetapi, kami sudah merasa cukup bangga melihat mereka mulai dapat bercakap-cakap dengan bahasa yang sedikit lebih beradab.

Ibrahim tampil memimpin pengucapan janji santri di hadapan teman dan kakak-kakaknya di Pesantren Mahasiswa, Pogung, Yogya. (foto: Joko)

Tanggal 5 September lalu, anak-anak ini membuat kami terharu. Kami terharu melihat mereka berusaha keras membangun percaya diri saat bertemu kakak-kakak mereka di Pesantren Mahasiswa de Muttaqin, di Pogung, Yogyakarta. Bahkan, dua santri cilik kami memberanikan diri untuk menunjukkan hasil hafalan Alquran mereka kepada kakak-kakaknya.

Terakhir, kenapa kami sebut pesantren kami di Maguwo sebagai Rumah Besar? Sebab, kami memang sedang berusaha mengembangkan pola pendidikan dengan semangat kekeluargaan. Kami mengutamakan kedisiplinan. Akan tetapi, kami juga ingin menjadikan santri kami sebagai bagian dari sebuah keluarga besar. Putra sulung kami ini, kami didik untuk saling menjaga, saling peduli, dan berbagi suka duka bersama. Kami berharap, mereka akan dapat terus saling mendukung sampai cita-cita mereka semua tercapai. (teks & foto: Joko)

About Author

Leave a Reply

*